Modus Baru, Begal Kedok Aparat Seser Mahasiswa Kota Medan

3 min read

MEDAN, Newsnarasi.com – Intensitas tindak kriminalitas di Kota Medan semakin masif dan brutal. Modus yang diperankan para pelaku pembegalan pun kini punya konsep baru. Para pelaku, menyasar target dengan menyamar sebagai oknum aparat kepolisian dan menuduh korbannya dengan dalih sebagai tersangka kejahatan.

Seperti dialami Farhan Pakpahan, seorang mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU), yang menjadi korban kejahatan sindikat begal. Ia menceritakan, dirinya diikuti kawanan begal ketika hendak pulang ke kost usai menutup gerai angkringan tempat jualannya di Jalan Jamin Ginting kawasan Pajus, Medan, pada Jumat (13/2/2026) sekitar Jam 23.30 WIB.

“Pas di kuburan itu aku dipepet, diberhentikan begal itu bang. Kepalaku dipitingnya dan diancam pakai obeng perutku biar aku diam,” ucap Farhan kepada newsnarasi.com.

Karena dalam posisi hidup mati, lanjut Farhan, dirinya sempat melawan dan berhasil lolos dari maut. Kemudian ia berlari sembari teriak minta tolong ke warga sekitar dan para pengendara yang melintas.

“Karena massa udah ramai, pelaku begal itu malah mengaku sebagai oknum polisi dan menuduh aku sebagai tersangka pencabulan anak dibawah umur. Disitu massa mulai teralihkan dengan dalih pelaku begal yang mengaku sebagai oknum polisi, hingga akhirnya ada beberapa orang yang menghakimiku (memukul),” lirihnya.

Ketika terjadi adu mulut, seorang oknum berpakaian dinas TNI mencoba melerai, kemudian bersama beberapa massa di lokasi membawa korban ke rumah Kepling.

“Waktu kami ke rumah Keplingnya tidak ditempat. Hanya aku sendirian yang dibawa ke rumah keplingnya, sedangkan dua orang begal itu tak dibawa. Yang membawaku itu oknum TNI dan dua orang yang tak kunal. Dua orang itu bersihkeras menyita sepedamotorku dan tasku untuk mereka periksa,” ungkapnya.

“Kemudian, setelah diintrogasi mereka, aku pun diantar pulang ke kos. Tapi pas di jalan pulang mereka kembali menyita handphoneku dan meminta kode pinnya. Karena dalam kondisi terancam aku hanya bisa nurut saja,” katanya.

Dikatakannya, sesampainya di kost, oknum TNI dan dua orang itu mengembalikan sepedamotor, tas serta handphone. Disana oknum TNI itu berbicara dengan bapak kost dan menelepon orangtua korban langsung menceritakan apa yang terjadi. Sebagai bentuk balasbudi, korban memberikan rokok dan uang terimakasih.

“Pas ku tanyak apakah oknum TNI itu dan dua orang itu ada hubungan (teman) katanya mereka tidak kenal, tapi setelah pulang dari kostku mereka tarek tiga boncengan naik sepedamotor. Terus, aku ditemani kawanku untuk membuat laporan ke Polsek Medan Baru, disana ku ceritakan kronologisnya bahwa aku adalah korban percobaan pembegalan dan malah dituduh sebagai tersangka pemerkosaan,” terangnya.

Apesnya, setelah kembali ke kost dan memeriksa isi dalam tas, barang pribadi seperti airpods dan tablet merk Huawei 12 yang berisi skripsi kuliahnya sudah hilang dari tas.

“Jadi pas ku cek isi tasku, tablet sama airpodsku udah hilang. Aku curiga yang ngambil itu dua orang yang mengantar aku pulang ke kost itu, karena dari awal sampai terakhir mereka yang bersihkeras memegang tasku untuk diamankan,” katanya.

“Ku telponlah oknum TNI tadi ku ceritakan kehilanganku, tapi dia malah meminta uang samaku untuk menanyakan itu sama dua orang tadi,” ucapnya.

Tak henti sampai disitu, dijelaskan Farhan, keesokan harinya oknum TNI itu kembali meneleponnya, dia menjanjikan segera mendapatkan tablet dan airpods korban yang hilang dengan syarat oknum TNI tersebut diberikan pinjaman uang sebesar Rp.15jt, namun hal itu langsung ditolak korban.

“Tabletmu itu bisa abang bantu cari, gampang ajanya itu, tapi kau kalau udah tau ditolong harus bisa nolong orang juga. Abang tau kau anak orang kaya, motormu aja harganya Rp.40jt dan barangmu mahal-mahal. Kek gitulah katanya bang, masa’ aku mau diolahnya sementara aku lagi kena musibah,” sebut Farhan mengulang kata-kata oknum TNI tersebut.

Karena korban tidak memberikan pinjaman, oknum TNI itu bersihkeras mengajak bertemu dan disepakati lah pertemuan itu di depan Kampus USU.

“Karena aku trauma, ku ajaklah temankan ke pertemuan itu, tapi mereka sembunyi-sembunyi menyamar pura-pura tak kenal. Pas jumpa rupanya oknum TNI itu datang sama dua orang yang semalam yang katanya tidak kenal itu. Disitu persoalan yang dibahasnya cuma tentang pinjaman uang Rp.15jt itu aja, tapi aku terus menolaknya karena aku udah tau kalau ini semua udah dikonsep mereka,” tandasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *