Sosok Jasmine Halim: Berangkat Dari Pebisnis Ulos Hingga Perancang Museum Ulos Mixed Reality

2 min read

SUMUT, Newsnarasi.com – Jasmine Halim seorang mahasiswa bersuku Tionghoa yang memilki kecintaan dengan produk Ulos. Kecintaan akan Ulos ini sudah ada di dalam diri Jasmine semenjak dia berusia 16 tahun.

Awal mulanya dia suka terhadap sebuah kain yang dipakai oleh tetangganya yang ternyata adalah sebuah Ulos yang berasal dari Simalungun. Jasmine sadar akan indahnya motif Ulos untuk dipakai sehari hari. Bermula dari kecintaan tersebut Jasmine membuat sebuah bisnis yang membuat produk fashion yang berasal dari kain Ulos. Produk seperti totebag,pouch sampai ke handbag dirancang dan diproduksi oleh Jasmine sendiri menggunakan kain Ulos sendiri. Kain yang dipakai berasal dari Ulos Simalungun hingga diberi nama Malungoen.id.

Mahasiswa Teknik Industri USU ini selain tertarik dengan Kain Ulos juga memiliki ketertarikan dengan dunia Teknologi. Jasmine melihat kalau biasanya budaya yang kita punya sudah banyak yang ditinggal karena tidak lagi mengikuti zaman dan terkesan begitu gitu saja.

Melihat ini Jasmine membuat sebuah inovasi baru yang menggabungkan budaya lokal dengan Teknologi modern.”Budaya dan teknologi jika disatukan akan berdampak sangat besar” jawaban Jasmine kita diwawancarai Mewakili tim dari USU jasmine beserta keempat timnya berhasil lolos ke kejuaraan PIMNAS Universitas Airlangga. Jasmine dengan timnya membuat sebuah rancangan museum yang diberi nama dengan Museum Ulos Heritage.

Ulos Heritage Museum, sebuah museum interaktif berbasis mixed reality yang bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan kain Ulos sebagai salah satu kearifan lokal Batak yang berharga menuju warisan dunia. Konsep Ulos Heritage Museum yang mereka usung menghadirkan teknologi mixed reality sebagai daya tarik utama.

Pengunjung dapat merasakan pengalaman yang mendalam dan interaktif melalui perangkat headset yang menggabungkan elemen fisik dan digital. Dalam museum ini, kain Ulos tidak hanya dipamerkan secara fisik tetapi juga dijelaskan melalui animasi dan informasi interaktif yang dihadirkan dalam bentuk hologram.

Museum ini lahir dari kecintaan Jasmine dan timnya terhadap Ulos. Gadis berkelahiran 3 Mei 2003 ini melihat sebuah peluang dimana biasanya Museum atau event budaya yang memamerkan Ulos hanya sekedar meletakkan kain tersebut di meja tanpa adanya interaksi dan sesuatu yang menarik pandangan mata.

”Iya saya kadang geram liat Ulos hanya ditampilkan begitu saja seolah tidak berharga” pungkasnya Jasmine sangat menyayangkan hal tersebut dimana dia sadar akan luasnya pengetahuan yang bisa orang dapat dari kain Ulos sendiri. Mulai dari pengertian sampai daerah asal yang berbeda adalah sebuah nilai yang terkandung didalam tiap kain Ulos. Produk Ulos yang ditampilkan Jasmine dan tim seluruhnya berasal dari daerah yang berbeda sehingga memiliki keragaman yang sangat banyak. Keragaman ini juga yang akan menarik perhatian publik untuk lebih lagi mengenal kain Ulos dari daerah yang berbeda.

Melalui Museum Ulos Heritage ini Jasmine dan tim sangat ingin mendorong anak anak muda untuk lebih lagi mencintai produk budaya lokal yang ada didaerah masing masing mereka.

“Anak muda seperti kami seharusnya lebih lagi mengenalkan budaya sendiri ke dunia luar dibandingkan mengenalkan budaya luar ke orang terdekat,”pesannya.

Tim yang mewakili USU ini juga berpesan kepada seluruh kalangan anak muda untuk tetap menjaga budaya lokal agar tidak tertinggal dengan guncangan budaya luar. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *