Stadion Rusak Jelang Porprovsu 2026, Ketua KONI Langkat Jangan Tutup Mata

3 min read

Newsnarasi.com || Langkat — Proyek rehabilitasi tribun Stadion Mini T. Amir Hamzah di Stabat menuai sorotan tajam. Dengan anggaran sekitar Rp150.900.000 yang bersumber dari dana P-APBD Kabupaten Langkat Tahun Anggaran 2025, kondisi stadion justru terlihat jauh dari harapan. Senin (02/03/26)

Pantauan di lapangan menunjukkan tribun hanya menyisakan puing-puing bangunan tanpa perubahan signifikan. Sekilas, tampilannya lebih menyerupai bangunan pasca-musibah dibanding hasil rehabilitasi yang menggunakan dana ratusan juta rupiah.
Atap stadion terlihat banyak yang bocor dan bolong akibat kurangnya pemeliharaan.

Bangku-bangku penonton tampak kotor dengan sampah yang berserakan. Fasilitas toilet di sisi kanan dan kiri stadion juga dalam kondisi kumuh, dengan sejumlah pintu rusak bahkan hilang.

Tak hanya itu, lintasan atletik yang mengelilingi lapangan sepak bola pun menjadi sorotan. Permukaannya tidak rata dan dinilai berpotensi membahayakan atlet saat latihan. Ironisnya, area tersebut juga kerap dijadikan lokasi lapak pedagang yang mengganggu aktivitas olahraga, sehingga fungsi stadion sebagai sarana pembinaan atlet dipertanyakan.

Lebih memprihatinkan lagi, spanduk atau plank proyek rehabilitasi terlihat berada di area tempat pembuangan sampah. Situasi ini semakin memperkuat kesan lemahnya pengawasan terhadap proyek yang bersumber dari uang rakyat.

Ironisnya, stadion ini berdiri tepat di depan Kantor DPRD Kabupaten Langkat dan hanya berjarak kurang lebih 50 meter dari Kantor Bupati Langkat. Letaknya yang berada di pusat pemerintahan membuat publik sulit memahami bagaimana kondisi tersebut bisa terjadi tanpa perhatian serius dari pihak terkait.

Sorotan pun mengarah kepada ketua Koni Langkat , H. Syah Afandin, S.H., yang juga menjabat sebagai Bupati Langkat. Sebagai pembina atlet di Kabupaten Langkat, tanggung jawab terhadap kelayakan sarana dan prasarana olahraga dinilai tidak bisa dilepaskan dari peran tersebut.

Situasi ini menjadi semakin krusial mengingat pada November 2026 mendatang akan digelar Pekan Olahraga Provinsi Sumatera Utara (Porprovsu) 2026. Ajang olahraga tingkat provinsi tersebut menjadi momentum penting bagi setiap daerah untuk menunjukkan kesiapan pembinaan atlet sekaligus kualitas fasilitas olahraga yang dimiliki.

Jika stadion yang menjadi salah satu pusat aktivitas olahraga di Langkat masih dalam kondisi memprihatinkan, publik tentu mempertanyakan sejauh mana kesiapan daerah menghadapi Porprovsu 2026.
Pembinaan atlet tidak hanya berbicara soal target medali, tetapi juga tentang ketersediaan fasilitas yang aman, layak, dan representatif.

Pengamat sepak bola Kabupaten Langkat, Safril, S.H., legenda PSMS Medan, menyampaikan kritiknya dengan nada prihatin. Safril pernah membawa PSL Langkat menjadi Runner-up Liga Soeratin U-17 dan juga membawa kelompok usia PSMS Medan berlaga di Inggris. Dari PSL Langkat pula lahir kiper Timnas Indonesia, Markus Horison.

“Saya berbicara ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi karena saya peduli. Sepak bola Langkat punya sejarah. Kita pernah juara, kita pernah melahirkan pemain nasional. Tapi hari ini yang kita lihat justru fasilitas yang tidak mencerminkan semangat pembinaan,” ujar Safril.

Ia menegaskan bahwa pembinaan atlet bukan hanya tentang agenda dan kompetisi, melainkan soal keseriusan menyediakan sarana yang layak dan terawat.

“Atlet butuh tempat latihan dan bertanding yang pantas. Kalau atap bocor, bangku kotor, toilet rusak, lintasan tidak rata, bagaimana anak-anak muda kita mau merasa bangga bermain di sana, Jangan sampai sejarah besar Langkat tinggal cerita karena kita lalai menjaga fasilitas yang ada,” tambahnya.

Safril juga berharap Ketua KONI Kabupaten Langkat dapat turun langsung melihat kondisi stadion dan sarana latihan para atlet, terlebih menjelang Porprovsu 2026.

“Kalau perlu, turun langsung ke lapangan dan lihat sendiri kondisinya. Supaya kebijakan yang diambil benar-benar berdasarkan fakta di lapangan dan bukan hanya laporan di atas meja. Porprovsu bukan sekadar ikut serta, tapi soal harga diri daerah,” tegasnya.

Kondisi stadion yang berada di jantung pemerintahan namun tampak kurang terurus menjadi ironi tersendiri. Stadion bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol komitmen dalam membina generasi muda dan menjaga marwah olahraga daerah.

Dengan waktu yang terus berjalan menuju November 2026, Porprovsu bukan lagi sekadar agenda seremonial, melainkan ujian nyata bagi kesiapan dan kepemimpinan olahraga di daerah. Stadion dan sarana latihan bukan hanya fasilitas fisik, tetapi simbol kesungguhan dalam membina generasi muda.

Jika kondisi dasar seperti atap bocor, tribun terbengkalai, toilet rusak, dan lintasan tidak rata masih menjadi pemandangan sehari-hari, maka publik tentu berhak bertanya: sejauh mana prioritas pembinaan olahraga benar-benar ditempatkan pada posisi yang semestinya.

Porprovsu 2026 kelak bukan hanya menjadi panggung bagi para atlet untuk bertanding, tetapi juga menjadi panggung penilaian terhadap komitmen dan tanggung jawab para pemangku kebijakan. Karena pada akhirnya, yang diuji bukan hanya stamina dan teknik di lapangan, melainkan juga keseriusan dalam mempersiapkan mereka.

Momentum ini akan menjadi penanda, apakah Langkat siap bangkit dan berbenah, atau justru kembali melewatkan kesempatan untuk membuktikan diri.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait progres detail rehabilitasi dan pemeliharaan stadion tersebut. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *