Ulos Gantikan Tanjak di Pisah Sambut Kapolres Langkat, Habibi : Jangan Hapus Identitas Bumi Melayu

2 min read

Newsnarasi.com, Langkat || – Prosesi pisah sambut Kapolres Langkat dari AKBP David Triyo Prasojo, S.H., S.I.K., M.Si. kepada AKBP Harry P.H. Tambunan, S.E., S.I.K., yang digelar pada Rabu (15/7/2026), menuai perhatian dari kalangan tokoh dan pemuda Melayu di Kabupaten Langkat.

Dalam acara yang dihadiri Plt. Bupati Langkat, Tiorita Br. Surbakti, Kapolres Langkat yang baru menerima kain Ulos sebagai simbol penyambutan.

Berbeda dengan tradisi yang selama ini melekat di Kabupaten Langkat, tidak tampak prosesi penyematan tanjak dan kain songket khas Melayu Langkat yang selama bertahun-tahun menjadi simbol penghormatan sekaligus penerimaan kepada pejabat yang akan mengemban amanah di Bumi Melayu. Bagi masyarakat Langkat, penyematan tanjak bukan sekadar prosesi seremonial.

Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari penghormatan terhadap identitas Kabupaten Langkat yang dikenal sebagai Bumi Melayu atau Negeri bertuah, wilayah yang memiliki sejarah panjang Kesultanan Langkat dan menjunjung tinggi adat serta budaya Melayu.

Perwakilan Pemuda Laskar Hang Tuah Kabupaten Langkat, S. Ahmad Habibi, menilai perubahan simbol penyambutan itu patut menjadi perhatian bersama.

“Kami menghormati seluruh budaya yang ada di Indonesia, termasuk budaya Batak., Karo ataupun lainnya Namun kami juga berharap setiap daerah tetap menjunjung tinggi identitas budayanya sendiri. Langkat adalah Bumi Melayu. Sudah semestinya simbol budaya Melayu tetap menjadi bagian utama dalam setiap prosesi penyambutan pejabat negara di daerah ini,” ujar Habibi.

Menurutnya, tradisi penyematan tanjak dan songket telah lama dilakukan oleh para kepala daerah terdahulu sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu kehormatan sekaligus simbol diterimanya pejabat tersebut sebagai bagian dari masyarakat Langkat.

“Yang kami sayangkan bukan karena adanya ulos, tetapi karena tidak hadirnya simbol budaya Melayu yang selama ini menjadi tradisi. Jangan sampai masyarakat menilai bahwa identitas budaya Melayu di tanahnya sendiri mulai dikesampingkan. Jika hal-hal seperti ini terus dianggap biasa, maka bukan tidak mungkin nilai-nilai budaya lokal akan perlahan memudar,” tegasnya.

Habibi menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya diwujudkan melalui festival budaya atau slogan “Bumi Melayu”, tetapi juga harus tercermin dalam setiap kegiatan resmi pemerintahan.”Marwah Melayu jangan hanya menjadi slogan di baliho atau pidato seremonial.

Marwah itu harus terlihat dalam tindakan nyata. Ketika penyambutan pejabat di Bumi Melayu justru tidak lagi menampilkan simbol utama budaya Melayu, tentu masyarakat berhak menyampaikan kritik dan harapan agar tradisi yang telah diwariskan para pendahulu tetap dijaga,” katanya.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Langkat dapat memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian adat dan budaya Melayu dalam setiap agenda resmi pemerintahan, sehingga identitas daerah tetap terjaga di tengah keberagaman budaya yang ada.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Langkat terkait pertimbangan penggunaan kain ulos dalam prosesi penyambutan Kapolres Langkat yang baru. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *